Ketika Desainer Kain Inggris Bertemu Perajin Tenun di Timor

8 Jul 2010

Bagi kita, pemakai busana, apa yang terpenting adalah busana yang dikenakan, beserta hasil busananya di tubuh kita. Tapi tahukah Anda, bahwa ada begitu besar industri yang terkait di belakang pakaian yang kita kenakan. Salah satunya, adalah industri perancangan kain yang melekat pada tubuh. Indonesia baru-baru ini kedatangan perancang kain muda yang mulai naik daun di kancah dunia fashion internasional, Laura Miles, dan Kompas Female berkesempatan berbincang dengan perempuan berambut pirang dan bermata biru ini.

Kedatangan Laura ke Indonesia bukan tanpa alasan. Ia datang atas undangan dan prakarsa dari perancang Indonesia kenamaan, Oscar Lawalata. Di bulan Februari lalu, Oscar bertandang ke Inggris untuk mengambil penghargaan yang diberikan padanya oleh British Council atas upayanya melestarikan dan menghidupkan bisnis wiraswasta berbasis komunitas penenun di NTT, Sumatera Selatan, dan Jawa. Di Inggris, ia bertemu Laura yang merupakan perancang kain yang berfokus pada tenunan. Ia pun mengajak Laura untuk melihat tenunan dan proses kerja tenunan di Indonesia. Dan (menurut tulisan di blog-nya), Laura tak perlu berpikir panjang dan menjawab ya, atas ajakan Oscar.

Laura juga merupakan salah seorang penerima hadiah dari British Council IYCE (International Young Creative Entrepreneur) Fashion Award. Kiprahnya dimulai ketika ia baru lulus dari kuliahnya di Inggris, ia mengambil jurusan kekhususan di bidang tenun pada tahun 1997. Kala itu, perancang kelas dunia, Donna Karan membeli hasil karya kelulusannya. Ia pun membuka perusahaan desain tekstil bernama “Woven”.

Kini, kain-kainnya sudah banyak digunakan oleh perancang kelas dunia, seperti Vera Wang, Carolina Herrera, Hussein Chalayan, Isaac Mizrahi, Ralph Lauren, Jonathan Saunders, Basso & Brooke, Giles, dan yang paling banyak mendapat sorotan, Thakoon. Tahun lalu, desain busana Thakoon dikenakan oleh Michelle Obama dalam kunjungannya ke Perancis, busana tersebut terbuat dari desain Laura. “Ya, itu merupakan desain saya. Saya dapat inspirasi dari Japanese Origami, floral pattern. Kami pikir, akan sangat menarik untuk dibuat dalam piksel yang lebih besar, lalu dibuat buram. Kompleksitasnya menarik. Kami sering membuat apa yang kami suka, lalu mengubahnya,” jelas Laura merendah. Yang menarik, Thakoon menggunakan rancangan kain Laura depan dan belakang. Untuk jubah luar, Thakoon menggunakan sisi berwarna gelapnya. Tanpa disangka, Thakoon membalik kainnya yang sama bagus, tapi berbeda warna untuk busana yang dikenakan dan melekat di tubuh Michelle Obama. Ini yang membuat nama Laura makin melesat di dunia perancang.

Mulai dari tanggal 1 Juni 2010 kemarin, Laura memulai proyek eksperimen kolaborasinya dengan Oscar Lawalata. Di hari keduanya di Indonesia, Laura mengunjungi para penenun di Sumba, Nusa Tenggara Timur untuk membantu Oscar menemukan teknik menenun yang lebih mudah namun hasilnya pun bisa lebih memungkinkan untuk dikenakan, tidak seperti kesan kasar hasil tenunan yang ada di pikiran kita selama ini.

“Sejak saya di sini, saya melihat banyak fabrik dan teknik yang luar biasa. Kebanyakan, dilakukan dengan tangan, yang tak bisa kita lakukan di dunia barat. Jadi, amat penting, agar mereka (para penenun di daerah) tidak mengubah cara mereka. Misal, apa yang dilakukan oleh para penenun di Nusa Tenggara, (hal ini) tak dilakukan di mana pun,” jelas Laura.

“Yang kami temukan, masalahnya, adalah, ketika melakukan hal yang sama berulang-ulang, maka kita tak awas dengan perkembangan atau dengan cara yang berbeda. Begitu yang terjadi dengan para penenun Ikat yang saya temui. Kain hasil tenunan mereka sangat indah, namun, kurang nyaman jika dikenakan di badan, karena tebal. Mungkin bagus jika dipajang di dinding, tapi tidak untuk digunakan sebagai busana,” tutur Laura.

Kemudian, Laura bercerita,”Pada suatu malam kami pergi berbelanja di suatu toko, semua (tenunan) yang kami sukai, ternyata merupakan kain-kain tenunan lama. Rasanya lebih lembut, warna yang digunakan pun lebih kalem. Ketika kami berbincang dengan penjaga toko di sana, ia menerangkan, bahwa para penenun masa kini sudah berubah. Mereka ingin mencari uang, jadi, berusaha membuat tenunan yang lebih cepat, kadang mereka menggunakan dua benang atau benang yang lebih tebal supaya hasilnya lebih cepat selesai. Sehingga, hasilnya memang lebih cepat selesai, tapi teksturnya tak selembut (kain tenunan) dulu. Jadi, karena apa yang mereka lakukan cukup dasar, tapi membatasi, kami ingin membuatnya kembali seperti hasil yang dulu. Kain tenun yang lebih lembut, flowy, tidak perlu cepat, tapi kualitasnya lebih baik.”

Untuk itu, Laura dan Oscar membuat semacam proyek pekerjaan eksperimen untuk para penenun ini kerjakan. “Di tahap awal, ketika kami meminta para penenun ini mengerjakan seperti yang kami inginkan, tetapi mereka takut hasilnya akan lama dan jika hasilnya lama, yang terjual pun sedikit, artinya, pemasukan pun berkurang. Perlahan-lahan kami coba membujuk mereka untuk mencoba melakukannya. Caranya, kami membayar lebih untuk hasil yang kami inginkan. Kami ajarkan mereka untuk mencoba mengganti benangnya ke kapas, rami, sutera, campuran katun-sutera. Lalu, kami juga coba memberikan mereka pekerjaan rumah sesuai cara yang kami ajarkan.”

Mengenai desain rancangannya, ia menjelaskan, seperti dikutip dari vogue.com, Laura mengucap, “Tipe wanita yang mengenakan kain rancangan saya adalah seseorang yang memiliki apresiasi untuk fabrik dan kelembutan kain yang merupakan hasil buatan tangan. Tipe orang yang mengerti bahwa apa yang ia beli merupakan sesuatu yang individual dan tak bisa dibuat massal.” Ia menggunakan mesin pemintal untuk membuat tenunan dari sutera dan bahan lainnya dari berbagai macam perusahaan di Inggris, New York, Jepang, dan China. Mudah-mudahan kolaborasinya dengan Oscar Lawalata ini bisa turut membantu mengangkat nama dan hasil karya tenun Indonesia ke pasar internasional, karena menurut pendapatnya, hasil kreasi tenun Indonesia amat mungkin untuk dijual ke pasar internasional, meski butuh perbaikan di beberapa faktor, seperti warna yang perlu diubah mengikuti pasar Eropa dan tekstur bahan yang perlu dibuat lebih lembut.


TAGS Add new tag Kain Tenun Timor TImor


-

Author

Follow Me